kata:pep|taling|taling-startTransliterator Latin → Aksara Bali ini dibuat untuk menjawab kebutuhan nyata yang sering muncul di sekolah-sekolah, desa adat, pura, dan komunitas budaya di Bali. Banyak orang yang ingin menulis aksara Bali untuk keperluan tugas, ritual keagamaan, materi pembelajaran, hingga branding UMKM lokal, tetapi terkendala kerumitan aturan penulisan aksara Bali—terutama ketika harus membedakan e taling (ᬾ) dan e pepet (ᭂ). Dalam pengalaman pribadi, duduk di bangku sekolah dasar di pedesaan, guru Bahasa Bali kerap menyuruh kami menyalin doa atau kalimat pendek ke aksara Bali. Walaupun menyenangkan, kami sering bingung menentukan vokal yang tepat, dan hasil tulisan hampir selalu memerlukan koreksi. Keterbatasan sumber belajar membuat proses itu terasa sulit bagi pemula.
Transliterator ini hadir sebagai solusi modern yang menghubungkan kekuatan teknologi dengan kekayaan budaya Bali. Mesin perubah huruf ini tidak sekadar mengganti karakter Latin menjadi aksara Bali, melainkan memproses struktur kata menggunakan sistem heuristik linguistik serta kamus pengecualian yang dapat diperluas. Dengan kombinasi keduanya, transliterator mampu mengenali pola fonologi khas bahasa Bali, mendeteksi gempelan (cluster konsonan), hingga menentukan jenis sandangan vokal secara lebih alami.
Fitur unggulannya adalah pembeda otomatis antara e taling dan e pepet. Dalam aksara Bali, keduanya tidak bisa dibaca hanya dari huruf “e” Latin; perlu memahami posisi suku kata, pasangan konsonan, dan konteks kata. Sistem heuristik di dalam transliterator ini dirancang untuk menebak bentuk vokal yang paling sesuai, dan jika hasilnya belum tepat, pengguna dapat mengoreksinya dengan fitur remember override. Begitu pengguna memperbaiki sebuah kata, mesin akan mengingat pilihan tersebut melalui kamus lokal, sehingga transliterasi berikutnya menjadi lebih akurat.
Kamus pengecualian dapat diperluas secara manual melalui antarmuka, memungkinkan guru, siswa, penulis lontar, atau pengembang konten budaya untuk menyesuaikan transliterasi dengan kosakata daerah masing-masing. Pendekatan ini menjadikan transliterator ini bukan hanya alat digital, tetapi juga wadah belajar interaktif yang berkembang sesuai konteks pengguna.
Dengan dukungan gempelan otomatis, sandangan vokal lengkap, pemilihan vokal adaptif, dan sistem koreksi yang responsif, transliterator ini sangat cocok digunakan untuk pendidikan, penelitian budaya, desain grafis, pembuatan poster upacara, hingga kebutuhan digital UMKM Bali. Prosesnya cepat, akurat, dan fleksibel, membawa aksara Bali tetap relevan di era teknologi tanpa menghilangkan nilai tradisinya.
Note: Engine ini berbasis rule-based dan kamus-driven. Untuk penggunaan pada korpus besar seperti naskah panjang, novel, lontar digital, atau sistem input otomatis, disarankan menambahkan lebih banyak pengecualian, kamus kata Bali, serta pola fonetik tambahan agar hasil transliterasi semakin presisi.